Oleh: pitonosmkteladanpukat | 27 Maret 2010

ULAR

MEDAN – Puluhan warga termasuk ayah kandung almarhum, Muhammad Zakaria, sempat menyaksikan ular Phyton di semak-semak tepi sungai Tembung, namun keburu menghilang saat hendak ditangkap.

Tim pencari yang terus memburu ular tersebut segera membongkar rimbunan pepohonan dan rawa-rawa, namun ular tersebut tak juga ditemukan.

Warno, salah seorang warga yang ikut mencari ular tersebut, mengaku sempat melihat ular itu, namun saat hendak ditangkap ular tersebut menghilang begitu saja tanpa ada yang mengetahui kemana perginya.

“Kami heran, kog tiba-tiba ular tersebut hilang dari pandangan kami. Padahal, sebelumnya kami lihat ular tersebut berada di mulut terowongan milik PT Panca Pinang yang letaknya di pinggir sungai tersebut,” ujarnya, tadi malam.

Menurutnya, mereka secara sukarela menebangi rimbunan pepohonan tersebut hingga rata dengan tanah dan sebagian lagi membakar rumput-rumput liar, namun ular tersebut tak juga ditemukan.

Menghilangnya ular tersebut bak menyimpan misteri yang mengandung mistis. Dapat terlihat dan tiba-tiba menghilang begitu saja.

Akibatnya, ratusan warga yang berduyun-duyun menyaksikan perburuan binatang melata yang sangat meresahkan warga itu tentu saja kecewa.

Salah seorang paranormal, Sunaryo, yang ada di lokasi mengatakan, berdasarkan penerawangan sebenarnya ular tersebut ada di bawah rimbunan pohon tepatnya di sudut tembok, tetapi untuk menangkapnya mesti tepat pk 24.00 WIB baru bisa ditangkap.

Menurutnya, ular yang dicari itu sebenarnya masih ada di tempat semula, karena gegabah dan belum waktunya pk 24.00 WIB, sudah mau ditangkap. Makanya ular itu hilang dilindungi yang gaib.

“Ularnya besar, lehernya sekitar sebetis dan kepalanya sebesar paha orang dewasa,” katanya.(waspada online)

global
Seminggu terakhir warga Medan, khususnya Medan Tembung digemparkan dengan kisah seorang pelajar SMP PGRI Medan, M Zakaria (13), yang dililit ular phyton hingga meninggal dunia. Tempat kejadian Kamis (18/3) lalu pun menjadi pusat perhatian. Berpuluh-puluh orang warga sekitar langsung “meramaikan” lokasi untuk mengetahui tempat, sambil berharap bisa melihat ular yang menewaskan anak remaja tersebut.

Kondisi ini dimanfaatkan beberapa orang warga untuk meraup rupiah. Kini, telah beredar compact disk (CD) tentang penangkapan ular phyton ini. Sebuah CD berjudul ‘Kisah Nyata Ular Piton Sungai Tembung’ menjadi rebutan warga Medan Tembung. Irna (30), warga Lau Dendang yang sudah membeli CD Ular Phyton versi kecil menceritakan CD ular tersebut berisi tentang kisah warga dalam menangkap ular phyton di Medan Tembung. “Isinya tentang warga yang menangkap ular phyton itu,” ucap ibu dua anak ini.

“Banyak sekali yang minta CD ular ini (CD berisi penangkapan ular phyton,red). Oleh penyalur kami dijatah (untuk mengambil CD,red). Sekali kirim mereka memberi dua puluh keping. Dalam satu hari, bisa sampai tiga kali orangnya (penyalur,red) datang. Itu pun masih banyak yang tidak dapat CD-nya,” ucap Yuli (25), pedagang CD di kawasan Bandar Setia Medan Tembung pada Global, Kamis (25/3) kemarin.

Menurut Yuli, CD yang dijual ada dua versi. “Kalau yang pertama sekali keluar, CD-nya masih kecil (ukuran plastik CD biasa,red). Tapi sekarang, tampilannya sudah besar seperti kaset DVD,” tutur perempuan berambut panjang ini.

Karena ukuran sampulnya yang berubah, harga CD ‘Ular Phyton’ ini pun turut berubah. Untuk satu keping CD versi kecil, tambah Yuli, dihargai Rp5 ribu. “Tapi sekarang udah nggak masuk lagi ke kedai kami,” imbuh perempuan berkulit putih ini. Harga yang ditawarkan Yuli untuk satu keping CD versi besar ini adalah Rp6 ribu. Yuli juga mengungkapkan, harga CD yang dijualnya ini termasuk murah. Karena menurutnya, penjual CD tempat lainnya menjual dengan harga Rp8 ribu per kepingnya.

Karena penasaran, Global mencari tahu kebenaran dari pernyataan Yuli. Kali ini, Global memantau penjual VCD di kawasan Pasar 7 Tembung, yakni di Pasar Simpang Jodoh. Ada tiga penjual VCD yang Global temui, membenarkan harga CD ular phyton Rp8 ribu.

Sedangkan seorang pedagang VCD lainnya memperlihatkan bentuk CD-nya kepada Global. Pedagang yang juga tak ingin menyebutkan namanya ini mengatakan CD ular phyton ini diterimanya sekira 4 hari yang lalu dari seorang penyalur. Dia bilang, sejak dijual, CD ular phyton ini selalu habis dibeli warga Tembung. “Sekali pesan kadang 25 keping dan habis dengan cepat,” ucap pria jangkung ini.

Sampul CD ular phyton yang dijual pedagang di Pasar Simpang Jodoh berbeda dengan sampul CD yang dijual Yuli. Walau desain sampulnya berbeda dari CD ular phyton yang dijual Yuli, namun isinya sama. Kedua sampul CD di desain menarik. Seperti yang dijual Yuli. Latarnya berwarna hitam dipadu dengan grafis warna siluet ungu serta kuning.

Kemudian judulnya juga ditulis dengan apik perpaduan huruf-huruf indah dari komputer. Disampul tertera ‘Kisah Nyata Ular Piton Sungai Ular & Anak Durhaka Manusia Ular’. Lalu yang dijual pedagang VCD di Pasar Simpang Jodoh, sampul CD-nya berwarna putih dengan menampilkan setiap scene video yang terdapat di dalam CD. Judulnya juga sama dengan yang dijual Yuli.

Saat diputar, ternyata isi CD tak ‘seindah’ sampulnya. Video rekaman tentang ular phyton cukup mengecewakan. Bahkan tidak sesuai dengan judulnya, Kisah Ular Phyton. CD berisi rekaman tanpa pembuka, dimulai dengan terlihatnya kondisi semak-semak yang ‘dikerumuni’ puluhan warga yang mencari ular. Terdengar orang yang merekam mengatakan “Nyari sambil masukin video, ya kan? Mana tahu, ya kan?”
Tiga menit pertama, sorotan kamera sang pembuat video, hanya diarahkan ke semak-semak dan warga yang berkerumun. Lalu video terpotong dan dilanjutkan dengan kondisi warga yang membopong dan menginjak ular phyton yang tertangkap.

Penggarapan video terkesan amatiran, seperti seseorang yang mengambil video dengan menggunakan kamera handphone. Bahkan saat mengangkat ular phyton, video lebih sering terarah pada badan dan kaki warga yang mengangkat ular.

Kisah penangkapan berakhir setelah delapan menit, saat ular diamankan. Tidak diketahui lagi akan dibawa kemana ular hasil tangkapan tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan rekaman video anak durhaka yang menjadi ular serta cerita-cerita yang mengandung misteri lainnya.

Sementara itu Deni, warga Medan Tembung mengatakan juga membeli CD Ular Phyton ini. “Kami kan tinggal di Tembung. Jadi mungkin rata-rata anak Tembung membeli CD ini. Karena ingin tahu tentang ular yang telah membunuh anak SMP tersebut,” ucapnya.

SITI AMELIA | GLOBAL | MEDAN

Warga Minta Ular Pemangsa Manusia Ditangkap Hidup-hidup
Rabu, 24 Maret 2010 | 12:12 WIB
http://www.ondacero.es
TERKAIT:

* Ular Piton 7 Meter Telan Pelajar SMP

MEDAN, KOMPAS.com — Salah seorang warga Tembung, Mualim M Nur Alamsyah Nasution (45), meminta kepada pawang ular yang sedang memburu ular piton besar pemangsa M Zakaria (13), pelajar SMP PGRI Tembung, secepatnya dapat menangkap hewan ganas itu.

“Bila perlu petugas Polsekta Percut Sei Tuan, aparat desa, dan Kecamatan Percut Sei Tuan dikerahkan mencari ular besar yang dikhawatirkan akan memakan korban lain,” kata Alamsyah dalam percakapannya di Tembung, Rabu (24/3/2010).

Alamsyah menyebutkan, ular piton memiliki panjang 8 meter dan berukuran sebesar tiang listrik itu diduga masih bersembunyi di terowongan pembuangan limbah milik PT Panca Pinang yang hanya berjarak 50 meter dari Sungai Tembung.

Ular piton pemangsa Zakaria yang belum tertangkap itu masih meresahkan warga yang bermukim di pinggiran DAS Sungai Tembung. “Perasaan kita, bisa saja ular yang belum tertangkap itu akan lebih ganas memangsa warga yang sedang mandi atau mencuci di Sungai Tembung,” tuturnya.

Ia mengharapkan kepada Camat Percut Sei Tuan dapat mendatangkan pawang ular yang cukup diandalkan dari Pulau Jawa atau mencari pawang ular terkenal dari Sumut. “Yang penting bagaimana caranya agar ular piton itu bisa ditangkap dan jangan dibiarkan terlalu lama bersembunyi di dalam Sungai Tembung. Kalau boleh ular tersebut harus ditangkap hidup-hidup,” tambahnya.

Alamsyah sebagai warga setempat mengakui bahwa di Sungai Tembung itu dihuni dan berkeliaran ular. Pengalaman hidupnya melihat ular di Sungai Tembung itu, yakni pertama kali sejak tahun 1973, saat itu dia masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Kemudian, yang kedua kalinya, dia melihat ular besar pada tahun 1988.

“Bisa saja ular yang dilihat itu adalah ular piton berukuran besar yang memangsa Zakaria. Kalau memang benar ular tersebut, maka usia ular itu sudah puluhan tahun,” katanya.

Sebelumnya, mengenai penangkapan seekor ular yang dilakukan pawang ular di Sungai Tembung, Jumat (19/3/2010) sekitar pukul 19.30 WIB, ternyata ular yang dijerat itu bukan ular yang memangsa M Zakaria. Ciri-ciri ular pemangsa Zakaria itu berkulit agak hitam dan berukuran lebih besar dan sebagian tubuh ular itu ada bekas luka tombak. Sementara itu, ular yang berhasil diamankan pawang yang dibantu warga itu memiliki tubuh mulus, kulit warna putih, dan tidak terlalu besar.

(kompas online)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: